Simple Typing

flying away through the imagination and halucination

Habis Pentol Terbitlah Sempol

Sempol Digoreng

Sejak Kapan Malang Diserang Sempol?

Dulu, sejak pertama kali menapakkan kaki di Malang, baru sekali saya menyantap panganan unik nan sederhana ini. Sederhana karena murah meriah, 500 perak sebiji, unik karena bentuknya seperti tempura lokal, menyerupai sate, rasa seirama batagor bersaus-kecap. Saat itu tahun 2013, belinya berjarak kurang lebih 32km dari kota Malang, tepatnya di SPBU Gondanglegi — bagi yang pernah ke Balekambang atau daerah Malang Selatan pasti tau. Diperlukan waktu sekitar dua jam untuk mencapainya, lumayan, dan dagannya tidak selalu ada, pada waktu itu, ya.

Menurut wikipedia ada berjuta makna dibalik namanya, namun Sempol yang saya ungkap adalah makanan, sejenis olahan kanji dan sedikit daging (atau perisanya) yang dicampur aduk, lalu ditusuk, dan digoreng dua kali. Seperti yang diungkap nengbiker.com, kurang lebih bahan-bahannya adalah..

……adonan daging ayam (atau yang lain, red) cincang yang dicampur banyak tepung. Tepung terigu atau tepung kanji. Kalau dari padatnya sepertinya tepung terigu tapi kalau dari kenyalnya sepertinya ada tepung kanjinya. Dibentuk seperti tempura, ditaruh di tusuk sate yang panjang, digoreng setengah matang dan saat menunggu pembeli didiamkan seperti penjual sate.

Sempol Disaji

Dalam hemat saya, benda ini tidak jauh berbeda dengan cilok, hanya proses masaknya yang digoreng setengah mateng dulu, lalu dicampur telur kocok, baru di goreng lagi hingga mateng, rasa tidak jauh berbeda dengan tempura limaratusan dan cilok/cilok bakar, tapi lebih enak.

Saya santap pertama kali di 2013, kini sudah Maret 2016, yang juga setiba-tibanya pun di kota Malang, ada banyak sekali pedagang Sempol bertebaran. Karena saya tidak terlalu memperhatikan dan pada bulan sebelumnya sering berpergian keluar kota, heranlah saya jadinya.

  Ini sejak kapan.. darimana datengnya… aku dimana..

Ada beberapa teman juga yang heran seperti saya, bertanya mengapa, tapi banyak juga yang menikmatinya. Teman saya menyebut para penikmat makanan ini dengan sebutan Sempol Mania, tidak ada definisi. Berdasarkan sensus pribadi yang saya lakukan dengan imaji, sebenarnya tren Sempol baru meledak di 2016 ini, entah karena ekspansi bisnis, atau para wirausahawan yang ingin mencoba hal baru, di kota Malang. Kalu di Malang Raya rasanya sudah sejak lama, saya juga kurang tahu dari kapan.

Secara tidak langsung, persebaran ini menunjukkan kota Malang sangat strategis untuk dijadikan lahan wirausaha, mengapa? Banyak hal, bisa karena jumlah mahasiswa (pendatang) yang semakin melimpah terutama di 2016, kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam(termasuk yang lapar), ketertarikan masyarakat akan hal baru, dan lain sebagainya. Hal ini juga bisa meningkatkan inisiatif masyarakat untuk berwirausaha, atau berinovasi. Lihat saja, sudah banyak sekali gerai makanan dari berbagai kalangan pada berbagai daerah di kota Malang, mulai awal merintis hingga yang menyebarkan franchise. Terbukti bukan?

Dari 32km, menjadi 320m

Banyak manfaat, Banyak penikmat

Salam Senyum :)

@igmerwina