Simple Typing

flying away through the imagination and halucination

13 Days No Salt

Where would we be without salt?

—James Beard [1903–1985]

Asin, gurih, penguat rasa, karakter kuat yang dimilikinya membuat saya terdampar, entah dimana. Selama 13 hari menjalankan perubahan pola makan (diet) anti garam —atau diet Mayo— telah mengkaparkan saya dalam kelunglaian. Sudah sangat cukup untuk saya, hanya sekali dalam setahun, tidak lagi.

Efek terberat tanpa sang Garam yang luar biasa adalah ketawaran dan kepahitan, dari indera perasa, menjalar ke seluruh tubuh, hingga meliputi hidup (13 hari) ini. Segala makanan terasa pahit, tawar. Tragedi 13 hari memunculkan sifat asli dari seluruh komplotan bahan masakan. Entah itu sayuran, daging, bumbu, apapun. Sayur bening dan bayamnya terasa pahit, kol rebus terasa menyengat, sop sayur terasa air kobokan, jamur kuping rebus terasa hambar dan berlendir, ayam tumis terasa amis, jagung manis pipil senikmat ngupil, udang panggang setengah matang terasa empuk dan lezat, telur rebus bermatang pas sangat mengenyangkan, bacem tahu tempe non gula merah dan garam terasa utuh, dan semua memberi kejutan. Amazing.

13 hari sebenarnya tidak terasa lama, karena saya tidak berpikir ini adalah sebuah diet, beban, atau tugas, hanya menjalankan hari-hari seperti biasa, bedanya, pada saat makan, tidak ada makanan yang mengandung garam, es (termasuk air es), gula, nasi, dan maksimal jam 6 di sore hari. Itu saja bedanya, saja yang membunuh.

Hari pertama adalah proses adaptasi, masih kuat, tanpa basa-basi, perbedaan tidak terlalu mencolok. Mata yang berbinar, tangan yang melenggang, kaki yang berirama, niat yang menopang, semuanya stabil, seperti biasa. Masuk hari kedua dan ketiga, terasa lumpuh kaki dan tubuh ini. Lemas, selemas-lemasnya, malas bergerak semaksimalnya. Jarak selangkah serasa sehari perjalanan, satu pergerakan anggota badan serasa tertancap beton wika, berat sepenuhnya. Namun, selalu ada titik cerah, dimanapun. Adalah buah, segala jenis buah, yang tidak pahit, yang memberi keindahan dalam 13 days of suffering ini, apalagi apel dan pisang. Ugh, indahnya Dunia ini, ketika kebahagiaan dalam jemari. Karena pisang memberikan kekenyangan yang lebih lama, dan apel memberikan rasa riang penyemangat. Kapanpun, saat-saat itu datang, tinggal santap, secukupnya, dan sirna sudah lara di hati.

Hari keempat dan seterusnya, berjalan seperti biasa. Sudah boleh sedikit menyantap yang lain, seperti susu rendah lemak, roti gandum maksimal dua iris perhari, kentang, kacang merah atau ijo, nangka, dan yang lainnya, asal memenuhi syarat. Ada kadar nutrisi yang sedikit melenceng juga tidak masalah, asal dibarengi dengan olahraga. Masa saya berkurang 500 gr tiap harinya, jadi total sekitar 6kg selama 13 hari, dengan tetap berolahraga maksimal 30 menit perhari dan boleh diakumulasi. Jika hari ini tidak berolahraga, esok boleh 1 jam. Sebaiknya olahraga dilakukan setelah bangun pagi, atau satu jam sebelum makan terakhir. Lari, renang, bersepeda, futsal, semuanya bisa, dan selalu ada air putih yang akan setia menemani. Tidak mengenyangkan memang, namun menyegarkan.

Jam tidur juga sedikit berubah. Tidur paling telat adalah jam 11 malam, ini mengantisipasi perut agar tidak buncit. Metabolisme di atas jam 10 malam akan menyebabkan perut yang lebih gampang buncit, diikuti kantung mata. Mulanya saya tidak percaya, setelah dicoba, ada benarnya, ada bedanya. 13 hari perenungan ini menyadarkan saya, bahwa indahnya garam tercipta bagi kita, tanpa garam, tanpa laut, tanpa buah, tanpa ciptaanNya, kita tidak bisa apa-apa. Segalanya patut disyukuri, apapun perolehannya, apapun kegiatannya.

Saya bisa. Semua orang bisa

Terimakasih atas berkatmu Tuhan…

Good Luck!